Kalau kamu merasa déjà vu saat dengar nama Daviena Skincare berseliweran lagi di timeline, kamu tidak sendirian. Aku juga ngerasain hal yang sama. Ada satu pola yang bikin orang makin capek: tiap ada masalah, ujungnya muter di kalimat yang mirip, “bukan kami, ini ulah pabriknya.” Padahal publik sudah pernah dengar versi itu sebelumnya.
Dan kali ini, kasusnya bukan sekadar klaim kebanyakan yang bikin orang geleng geleng. Ini sudah masuk ke ranah bahan berbahaya yang disebut BPOM dalam temuan resminya.
“Aku tuh bukan tipe yang gampang ikut keributan skincare viral. Tapi kalau sudah ada nama brand masuk daftar BPOM, refleksku langsung: stop dulu, baca dulu, baru bicara.”
Kenapa Daviena Skincare Jadi Sorotan Lagi di Januari 2026
Awal kegaduhan terbaru ini datang setelah BPOM merilis temuan kosmetik berbahaya periode Oktober sampai Desember 2025. Dalam daftar itu, salah satu yang disebut adalah Daviena Skincare Intensive Night Cream with AHA. BPOM mencantumkan bahan berbahaya yang ditemukan yaitu deksametason, dan disebut juga bahwa nomor izin edar dibatalkan.
Buat yang belum familiar, deksametason itu obat golongan kortikosteroid. Ini bukan “bahan aktif skincare” yang boleh masuk seenaknya, apalagi untuk produk yang dipakai harian tanpa pengawasan dokter.
Produk yang Disorot: Intensive Night Cream with AHA
Nama produknya jelas disebut dalam berbagai pemberitaan yang merujuk dokumen BPOM, termasuk nomor registrasi yang beredar di publik.
Yang bikin isu ini cepat membesar adalah karena kosmetik yang mengandung bahan kimia obat atau bahan dilarang bukan cuma urusan “cocok tidak cocok.” Ini sudah menyentuh ranah keamanan.

Risiko Deksametason di Kosmetik Itu Nyata, Bukan Menakut nakuti
BPOM juga menjelaskan risiko deksametason pada kosmetik, di antaranya bisa memicu dermatitis kontak, jerawat, rosacea, sampai supresi adrenal.
Aku mau kamu menangkap satu hal penting: produk yang terasa “cepat kinclong” itu sering jadi jebakan paling halus. Karena steroid memang bisa memberi efek instan pada beberapa kondisi kulit, tapi biaya jangka panjangnya bisa mahal.
“Dulu aku pernah tergoda krim yang katanya bikin mulus dalam 3 malam. Memang kelihatan ‘jadi’, tapi begitu stop, kulitku kayak ngamuk. Sejak itu aku trauma sama yang hasilnya terlalu cepat.”
Klarifikasi Daviena: Alasan “Oknum Produsen” dan Narasi Pabrik Bandel
Setelah isu ini meledak, Daviena Skincare menyampaikan klarifikasi melalui kanal mereka. Intinya, mereka menyebut penarikan terjadi karena kecurangan oknum produsen yang menambahkan bahan di luar kesepakatan, dan produk yang dimaksud diklaim sudah dihentikan sejak setahun lalu.
Dalam pemberitaan, produsen yang disebut adalah CV Surya Permata.
Kalimat “oknum produsen” ini yang bikin publik makin panas, karena terdengar seperti pengalihan tanggung jawab. Dan jujur ya, aku mengerti kenapa orang jadi sulit percaya.

Kenapa Alasan “Pabriknya yang Nakal” Terasa Mengulang
Dalam industri skincare lokal, kontrak produksi itu memang umum. Brand bisa memakai jasa pabrik pihak ketiga. Masalahnya, ketika terjadi pelanggaran, publik sering melihat pola yang sama:
- Produk viral dulu
- Masalah meledak
- Brand bilang ini ulah manufaktur
- Lalu muncul versi “produk lama”, “stok sudah tidak ada”, atau “sudah reformulasi”
Daviena juga menyebut produk itu sudah diganti dengan formulasi baru yang diklaim sudah punya izin BPOM terbaru.
Tapi kalau komunikasi krisisnya cuma “kami korban,” sementara konsumen merasa jadi pihak yang paling rugi, trust issue itu otomatis terjadi.
Pertanyaan yang Wajar dari Konsumen: Kok Bisa Lolos?
Ini pertanyaan paling manusiawi. Karena publik mengira proses perizinan itu seperti gerbang super ketat yang mustahil ditembus produk bermasalah.
Faktanya, pengawasan bisa terjadi di banyak titik: mulai dari pendaftaran, sampling di pasaran, investigasi rantai distribusi, sampai sanksi. Dalam rilis temuan 26 produk, BPOM juga menegaskan akan menelusuri rantai produksi dan distribusi, dan bila ada unsur pidana akan diproses lebih lanjut.
Tapi di mata netizen, yang tertangkap sering hanya “hasil akhir”: setelah viral, baru ramai, lalu produk ditarik.
Ini Bukan Isu Pertama: Jejak Overclaim yang Pernah Menempel
Nah ini bagian yang bikin topik Daviena terasa seperti serial. Sebelum kasus bahan berbahaya ini, Daviena sudah beberapa kali terseret obrolan soal overclaim.
Overclaim itu bahasa simpelnya: klaim kandungan atau manfaat yang terdengar wah, tapi ketika diuji, hasilnya tidak sesuai dengan apa yang dipromosikan.

Salah satu yang ramai adalah pembahasan soal produk retinal Daviena yang disebut overclaim dalam konten uji lab oleh kreator yang dikenal sebagai Dokter Detektif.
Lalu di 2025, ada juga pemberitaan soal Daviena yang diduga menjual produk overclaim sampai digeruduk mahasiswa.
Overclaim Itu “Abu abu” Tapi Dampaknya Lebih Merusak dari yang Dikira
Banyak orang menganggap overclaim itu cuma drama marketing. Padahal efeknya panjang:
- konsumen kehilangan uang dan harapan
- ekspektasi kulit jadi tidak realistis
- industri skincare lokal yang bagus ikut kena imbas, karena orang jadi generalisasi
Di ranah akademik pun, Daviena sempat disebut sebagai contoh kasus overclaim dalam beberapa tulisan ilmiah tentang perlindungan konsumen dan pemasaran overclaim.
Dan di titik inilah, publik makin sensitif: ketika brand yang pernah disorot soal klaim, tiba tiba terseret daftar BPOM soal bahan berbahaya, reaksi orang pasti dobel.
Dari Overclaim ke Temuan BPOM: Levelnya Beda
Aku perlu tegas di sini biar kamu tidak tercampur aduk.
Overclaim biasanya berkutat pada:
- kadar bahan aktif tidak sesuai klaim
- manfaat yang dilebih lebihkan
Sedangkan temuan BPOM pada Daviena Intensive Night Cream with AHA itu bicara soal:
- bahan yang berbahaya atau dilarang (deksametason)
- sanksi sampai pembatalan izin edar
Ini bukan cuma “marketing kebablasan.” Ini sudah “alarm keamanan.”
BPOM dan Kritik Ketidaktegasan: Kenapa Rasanya Berulang Terus?
Aku paham kalau ada yang bilang, “BPOM kok kayak telat.” Tapi aku juga tidak mau jatuh ke narasi simplistik seolah semua salah BPOM. Realitanya lebih ruwet.
Yang jelas, publik melihat pola yang sama di industri skincare Indonesia:
produk bermasalah bisa muncul lagi, entah dengan nama baru, formula baru, atau pabrik baru. Dan ketika satu brand berkali kali disorot, orang mulai bertanya, “Sebenarnya kapoknya di mana?”
Ada Sanksi, Tapi Publik Ingin Efek Jera yang Terasa
Dalam rilis temuan kosmetik berbahaya ini, BPOM menyebut langkah lanjutan dan potensi proses pidana bila ada unsur pidana.
Namun problem persepsi publik tetap ada: banyak kasus terasa selesai di “tarik produk”, sementara figur brandnya tetap bisa jualan lagi, rebranding lagi, dan bisnis jalan terus.
Di sisi lain, BPOM juga terbukti melakukan penindakan ke pabrik kosmetik ilegal di berbagai kasus lain, termasuk penggerebekan dan pengamanan sarana produksi.
Tapi untuk konsumen yang sudah terlanjur kecewa, berita “penindakan” ini terasa kalah cepat dibanding laju iklan dan live selling.

Kalau Alasan Pabrik Bandel Dipakai Lagi, Berarti Ada Lubang di Sistem
Aku mau jujur ya. Ini yang bikin aku pribadi paling gelisah.
Kalau sebuah brand bilang “pabriknya yang nakal”, berarti ada dua kemungkinan yang sama sama tidak enak:
- Brand benar benar tidak punya kontrol kualitas yang ketat
- Brand tahu ada risiko tapi tetap jalan karena demand tinggi
Dan dua duanya mengarah ke hal yang sama: konsumen jadi kelinci percobaan.
Dalam perspektif hukum perlindungan konsumen, praktik overclaim dan promosi menyesatkan bisa punya konsekuensi. Bahkan ada kajian yang membahas tanggung jawab owner skincare terkait overclaim dengan contoh merek Daviena.
Buat Kamu yang Lagi Panik: Harus Ngapain Kalau Punya Produknya?
Aku tidak suka bikin orang panik, tapi aku lebih tidak suka meremehkan risiko.
Kalau kamu punya produk yang namanya disebut dalam daftar temuan BPOM, langkahnya begini.
1. Stop pakai dulu, terutama kalau kamu lagi breakout aneh
Kalau ada reaksi seperti:
- jerawat mendadak meledak padahal biasanya enggak
- kulit terasa makin tipis, gampang perih
- kemerahan yang tidak wajar
Berhenti itu bukan lebay, itu bentuk sayang sama kulit sendiri.
2. Simpan bukti pembelian dan foto produk
Ini penting kalau kamu perlu:
- konsultasi ke dokter kulit
- melapor
- meminta pertanggungjawaban penjual
Jangan andalkan ingatan, simpan yang bisa disimpan.
3. Cek dokumen penjelasan publik BPOM
BPOM punya kanal penjelasan publik untuk produk temuan pengawasan. Kamu bisa cari berdasarkan nama produk atau kategori kosmetik.
Aku tahu proses cek begini kadang bikin malas, tapi ini kebiasaan kecil yang bisa menyelamatkan kamu dari drama panjang.
4. Kalau kamu merasa ada efek serius, jangan self diagnose
Kalau kamu merasa kulit makin rusak, lebih aman konsultasi ke tenaga medis. Karena steroid atau bahan berbahaya itu bisa punya efek yang tidak kelihatan hanya dari permukaan.
“Aku selalu bilang ke followers: skincare itu boleh trial, tapi jangan trial sampai mempertaruhkan barrier kulitmu. Skincare bagus itu terasa aman dulu, baru cantik.”
Pelajaran Besar Buat Industri Skincare Lokal yang Lagi Naik Daun
Aku cinta skincare lokal, aku juga sering review brand lokal yang bagus dan serius. Tapi justru karena cinta, aku makin rewel soal yang beginian.

Kasus Daviena ini memperlihatkan 3 hal yang tidak bisa terus dibiarkan.
Transparansi kontrak produksi harus jadi standar, bukan bonus
Kalau brand memakai pihak ketiga, konsumen berhak tahu:
- siapa produsennya
- bagaimana kontrol kualitasnya
- apa prosedur auditnya
Karena ketika kejadian, jangan cuma konsumen yang disuruh “paham”.
Klaim harus bisa diuji, bukan cuma enak didengar
Overclaim itu penyakit lama di beauty industry. Dari yang “glowing 1 malam”, “flek hilang 3 hari”, sampai “retinol tertinggi di dunia”.
Dan ketika overclaim dibiarkan, pelan pelan normalisasi terjadi. Sampai akhirnya orang menganggap klaim gila itu hal biasa.
BPOM perlu bikin hukuman yang terasa sampai ke akar bisnis
Aku bukan pembuat kebijakan, tapi sebagai orang yang tiap hari hidup di dunia beauty, aku tahu satu hal:
kalau konsekuensi bisnisnya kecil, pelanggaran akan terus dicoba.
BPOM pernah menyinggung bahwa masih ada produk yang berulang kali ditemukan meski sebelumnya sudah pernah kena public warning.
Nah, ini yang perlu ditutup rapat.
Cara Aman Menilai Skincare Saat Banyaknya Overclaim
Aku tutup tulisan ini tanpa menyimpulkan panjang lebar, tapi aku mau ninggalin kamu dengan “pegangan” yang bisa dipakai kapan pun ada kasus viral skincare.
Jangan langsung percaya 3 hal ini
- Pertama, klaim hasil instan yang terlalu cepat.
- Kedua, narasi “ini cuma salah pabrik”, tanpa ada bukti langkah perbaikan yang jelas.
- Ketiga, pembelaan yang fokusnya ke citra brand, bukan keamanan konsumen.
Kalau brand serius, biasanya terlihat dari responsnya
Brand yang matang biasanya:
- tidak defensif
- mengutamakan info keamanan dan langkah recall
- membuka jalur pengaduan
- transparan soal batch dan distribusi
Kalau yang muncul malah drama, sindiran, atau playing victim, kamu berhak mundur.
Dan kamu tidak harus jadi ahli untuk jaga diri
Cukup jadi konsumen yang teliti.
Karena kulit kamu itu bukan ladang eksperimen siapa pun.
